Segala puji bagi Allah Ta’ala semata, dan kepadaNya kami minta pertolongan.
Shalawat kepada Nabi yang diutus, Muhammad bin ‘Abdillah shallallahu
‘alaihi wa sallam, dan kepada keluarganya, para sahabatnya serta
orang-orang yang mengikuti beliau hingga hari kiamat. Sesungguhnya Islam menjelaskan dengan terang akan perkara “semangat di atas
ikatan keimanan di antara kaum muslimin”. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara, maka perbaikilah
(damaikanlah) hubungan antara kedua saudaramu (yang berselisih), dan
bertaqwalah kepada Allah agar kalian diberi rahmat“. (QS. Al-Hujurat: 10)
Dari sini berarti memutus hubungan (di antara kaum muslimin) adalah dosa
besar di antara dosa-dosa besar yang ada. Dari Abu Hurairah radhiyallahu
‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dibukakan
pintu-pintu surga pada hari senin dan kamis, maka diampuni setiap hamba yang
muslim selama tidak berbuat syirik kepada Allah, kecuali seseorang yang
terdapat kebencian pada saudaranya, lalu dikatakan: Perhatikanlah oleh kalian
sampai mereka berdua berdamai. Perhatikanlah oleh kalian sampai mereka berdua
berdamai.” (HR. Muslim).
Sesungguhnya seorang muslim yang muwahhid (bertauhid) lagi jujur
ketauhidannya, tidak akan membenci dan hasad (dengki) kepada saudaranya. Jika
saudaranya merasakan sakit, maka ia pun merasa hal yang sama. Bahkan ia pun
akan merasakan bahagia jika saudaranya bahagia. Ia akan berusaha menjaga
dirinya dari sekecil mungkin berbuat salah kepada saudaranya.
Dalam hadits dari ‘Aisyah radiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Yang paling dibenci oleh Allah adalah
seseorang yang suka menentang lagi suka membantah.” (HR. Al-Bukhari dan
Muslim). Tiada lain yang dimaksud adalah orang yang menjerumuskan dirinya ke
dalam dosa dengan permusuhan dan perdebatan.
Dan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian saling mencela (yaitu
berbicara dengan perkataan jelek), saling bermusuhan, saling memata-matai, dan
melakukan jual beli najsy (menawar harga tinggi untuk menipu pengunjung
lainnya). Jadilah hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Muslim).
Dari Abi Ayub Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah halal bagi seseorang mendiamkan
saudaranya lebih dari tiga hari, jika bertemu maka (yang satu) berpaling ke
sini dan (yang lain) menghindar ke sana. Sebaik-baik di antara keduanya
adalah yang memulai mengucapkan salam.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dari Abu Khurasy As-Sulamiy radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya dia
mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa
yang mendiamkan saudaranya selama 1 tahun, maka ia seakan-akan telah
menumpahkan darahnya.” (HR. Abu Daud, dishahihkan oleh Al-Albani). Dalam
hadits lain disebutkan, “Dan tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak mau
bersahabat dan bersaudara.” (HR. Ahmad. Al-Albani berkata bahwa hadits ini
shahih sesuai syarat Muslim)
Manusia yang memiliki hati dan akal yang sehat lagi menginginkan kebaikan
merupakan manusia yang mulia lagi terpuji. Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا
اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
(102) وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا
نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ
قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا
حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ
آَيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ (103)
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan
sebenar-benar taqwa kepadaNya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan
muslim. Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan
janganlah kamu berceraiberai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu
dahulu (masa jahiliyah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu sehingga
dengan karuniaNya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (pada saat itu) kamu
berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu darinya.” (QS.
Ali ‘Imran: 102-103)
فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَصْلِحُوا ذَاتَ
بَيْنِكُمْ
“Maka bertaqwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara
sesamamu.”(QS. Al-Anfal: 1)
وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا
تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak
suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. An-Nuur: 22)
فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ إِنَّ
اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka. Sesungguhnya Allah
menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Maidah: 13)
وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا
وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ
“Dan janganlah kamu berselisih yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan
kekuatanmu menjadi hilang.” (QS. Al-Anfal: 46)
وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ
تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ
“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang bercerai-berai dan
berselisih setelah sampai kepada mereka keterangan yang jelas.” (QS. Ali
‘Imran: 105)
لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ
نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ
النَّاسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ
أَجْرًا عَظِيمًا
“Tidak ada kebaikan dari banyak pembicaraan rahasia mereka, kecuali
pembicaraan rahasia dari orang yang menyuruh (orang) bersedekah, atau berbuat
kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Barangsiapa berbuat
demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami akan memberinya pahala
yang besar.” (QS. An-Nisa’: 114)
Wahai saudaraku yang menginginkan perbaikan. Aku berikan kabar
gembira berupa pahala yang besar lagi terpuji dari Allah Yang Maha Mulia.
Asalkan engkau memperbaiki niatmu, mengikhlaskan amalmu kepada Allah Ta’ala
semata, mengikuti petunjuk Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan
para sahabat beliau radhiyallahu ‘anhum serta para salafush sholih.
Diwajibkan atas kalian menjadi perantara dalam menyampaikan petunjuk dan
perbaikan, serta mencintai kebaikan atas manusia, memerintahkan kepada yang
ma’ruf, melarang dari perkara yang mungkar dengan cara yang baik dan dengan
didasari ilmu (bashiroh). Melakukan hal-hal tadi dengan penuh kesabaran,
kelembutan, serta berhati-hati dari sikap ekstrim dan terburu-buru. Kewajiban
kita hanyalah menyampaikan saja, adapun hidayah serta perubahan dan perbaikan
adalah di Tangan Allah ‘azza wa jalla.
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ
وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
“Sesungguhnya kamu tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu
cintai, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada orang yang Dia
kehendaki, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.”
(QS. Al-Qashash: 56)
Kita harus ingat bahwa menentang dan memberontak para pemimpin
adalah dosa besar di antara dosa-dosa besar yang ada. Sebagaimana yang
telah disebutkan di atas menggambarkan dengan jelas tentang larangan saling
bertikai.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ أَطَاعَنِى فَقَدْ أَطَاعَ
اللَّهَ ، وَمَنْ عَصَانِى فَقَدْ عَصَى اللَّهَ ، وَمَنْ أَطَاعَ أَمِيرِى فَقَدْ
أَطَاعَنِى ، وَمَنْ عَصَى أَمِيرِى فَقَدْ عَصَانِى
“Barangsiapa yang mentaatiku maka dia telah mentaati Allah. Barangsiapa
yang bermaksiat kepadaku maka ia telah bermaksiat kepada Allah. Barangsiapa
yang mentaati pemimpin maka ia telah mentaatiku. Barangsiapa yang bermaksiat
(enggan taat) kepada pemimpin maka ia telah bermaksiat kepadaku.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
Dari ‘Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilah, barangsiapa yang di bawah
seorang pemimpin dan ia melihat padanya ada kemaksiatan kepada Allah, maka
hendaklah ia membenci kemaksiatannya. Akan tetapi, janganlah (menjadikannya)
melepaskan ketaatan kepada pemimpin tersebut.” (HR. Muslim)
Adapun semangat di atas sebab yang menghantarkan kepada persatuan dan saling
memahami, maka balasannya di dunia dan di akhirat, dan Allah Ta’ala
yang Maha Mengetahui.
Dari Ubaidah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang beribadah kepada Allah
dengan tidak menyekutukanNya dengan sesuatupun, mendirikan shalat, menunaikan
zakat, mendengar dan taat kepada pemimpinnya, maka ia akan masuk surga dari
pintu mana saja yang ia inginkan dari delapan pintu surga.” (HR. Ahmad,
Ibnu Abi Ashim dan At-Thobroni)
Aku memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Penyayang agar memberi
kepada kita semua petunjuk di atas jalan yang lurus. Semoga Allah memperbaiki
niat, amal, perkataan, keyakinan, keadaan, dan akhlaq kita beserta keluarga,
keturunan, cucu-cucu kita dengan penuh ampunan. Demikian juga saya memohon
kepadaNya agar kita mendapatkan manfaat dan faedah dari apa yang telah kita
dengar dan kita bicarakan (nasihat di atas), dan juga memberikan kita ilmu yang
bermanfaat dan memberikan kita rasa saling memaafkan dengan penuh kelembutan,
rasa persatuan, tolong menolong, saling bahu-membahu, dan rasa kebersamaan, dan
juga menghindarkan kita dari kemarahan dan kebodohan.
Aku memohon kepada Allah Ta’ala agar menjaga ulama-ulama kita dan
para pemimpin muslimin kita. Aamiiin.
Segala puji bagi Allah Ta’ala dan shalawat serta salam kepada nabi
Muhammad yang tiada nabi sesudahnya, dan kepada keluarganya serta sahabatnya.
Maraji’: Nasihat singkat Syaikh Abdullah bin Abdirrahman
Al-Jibrin rahimahullah.
Penerjemah: Abu Ahmad (Meilana Dharma Putra*) & Ummu Ahmad
catatan : konteks pemimpin yang dimaksud adalah pemimpin muslim, pemimpin muslim yang masih dalam katagori beriman kepada Allah Ta'ala dan juga berusaha mengamalkan Nahi Munkar. bukan pemimpin yang dzolim atau yang memerintahkan kerusakan dan kehancuran, khususnya bagi ummat Islam, Wallahu A'lam

0 komentar:
Posting Komentar