Kebahagiaan, happiness. Sering sekali kita mendengarnya.
Bahkan hampir tidak ada seorang pun di muka bumi ini yang tidak ingin
mendapatkannya. Namun apabila kita tanyakan kepada mereka, apakah yang mereka
maksud dengan kebahagiaan, maka niscaya ribuan jawaban akan terlontar dari
mulut mereka. Sekelompok orang akan mengatakan bahwa kebahagiaan adalah
melimpahnya harta dan berbagai kesenangan dunia. Sekelompok orang yang lain
akan mengatakan bahwa kebahagiaan adalah kebebasan untuk berkreasi dan
keberhasilan menyingkap rahasia-rahasia ilmu pengetahuan. Ada lagi yang
mengatakan bahwa kebahagiaan adalah ketenangan hati dan bebas dari rasa takut
dan kesedihan. Saudaraku, apabila kita cermati sekali lagi sekian banyak
jawaban mereka maka tidak ada jawaban yang bisa melegakan hati orang yang
beriman kecuali firman Allah dan sabda Rasul-Nya serta untaian nasihat para
ulama. Simaklah sebuah do’a yang indah dari Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah
bagi setiap muslim yang membaca kitabnya Al Qawa’idul Arba‘.
Beliau berkata, “Aku memohon kepada Allah yang Maha Pemurah, Rabb pemilik Arsy
yang Maha Besar, semoga Allah menjagamu di dunia dan di akhirat dan
menjadikanmu mendapatkan keberkahan di manapun kamu berada, dan menjadikanmu
bersyukur jika diberi nikmat, bersabar jika ditimpa cobaan dan beristighfar
jika terjerumus dalam dosa. Karena sesungguhnya tiga hal itulah ciri utama
kebahagiaan.”
Syukur tatkala mendapatkan nikmat
Hakikat syukur adalah mengakui di dalam hati
bahwa nikmat yang diperolehnya berasal dari Allah, kemudian menampakkan rasa
syukurnya itu dengan memuji Allah serta menggunakan nikmat yang diberikan itu
dalam rangka melakukan ketaatan. Allah Ta’ala telah memerintahkan kita
untuk bersyukur di dalam firman-Nya yang artinya, “Dan bersyukurlah kalian
kepada-Ku dan janganlah kalian kufur.” (QS. Al Baqarah: 152). Di dalam
ayat lain Allah telah menjanjikan bagi orang yang bersyukur bahwa dia akan
mendapatkan tambahan nikmat. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Sungguh
jika kalian bersyukur niscaya Aku benar-benar akan menambahkan (nikmat) kepada
kalian, dan apabila kalian justru ingkar maka sesungguhnya siksa-Ku amatlah
pedih.” (QS. Ibrahim: 7). Walaupun demikian ternyata hanya sebagian kecil
hamba Allah yang pandai bersyukur. Allah Ta’ala berfirman yang
artinya, “Dan amat sedikit diantara hamba-hamba-Ku yang pandai bersyukur.”
(QS. Saba’: 13). Padahal tidakkah kita sadar bahwa sekian banyak nikmat yang
ada pada diri kita ini semuanya berasal dari Allah saja. Allah Ta’ala
berfirman yang artinya, “Dan nikmat apapun yang ada pada diri kalian maka
itu semua berasal dari Allah.” (QS. An Nahl: 53). Apabila kita ingin
menghitung seluruh nikmat itu, pasti tidak ada seorang manusia pun yang sanggup
menghitungnya. Sebagaimana telah difirmankan oleh Allah Ta’ala yang
artinya, “Dan jika kalian berusaha menghitung nikmat Allah maka kalian
tidak akan mampu menghingganya.” (QS. Ibrahim: 34).
Nah, lalu dengan alasan apakah kita menyombongkan
diri atau bahkan mengingkari sekian banyak nikmat ini? Tidakkah kita ingat
bagaimana buah dari kecongkakan Qarun yang berani berkata, “Sesungguhnya ini
semua aku dapatkan hanya berkat ilmu yang aku punyai.” Maka apakah yang
diperolehnya ? Sebuah siksa yang sangat mengerikan. Semua harta yang
dibangga-banggakannya dibenamkan ke dalam perut bumi oleh Allah bersama
tubuhnya. Duhai, adakah orang yang mau mengambil pelajaran?!!
Bersabar ketika mendapatkan cobaan
Cobaan adalah satu hal yang pasti dialami setiap
insan. Oleh karena itu, Allah berfirman di dalam Al Qur’an yang artinya, “Dzat
yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian siapakah diantara
kalian yang paling baik amalnya.” (QS. Al Mulk: 2). Dalam ayat lain Allah
menyatakan, “Dan sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa lapar
serta ketakutan dan kekurangan harta, maka berilah kabar gembira kepada
orang-orang yang sabar…” (QS. Al Baqarah: 155).
Sabar tatkala mendapatkan cobaan artinya menahan
diri untuk tidak menyimpan kemarahan di dalam hati kepada keputusan Allah,
menahan diri dari mengucapkan kata-kata laknat atau meratap atau caci maki, dan
juga menahan anggota badan dari melakukan tindakan-tindakan yang merupakan
pelampiasan kemarahan dan tidak menerima takdir seperti menampar-nampar pipi,
merobek-robek kain atau bahkan menjerit-jerit. Kenapa hal-hal itu tidak diperbolehkan?
Alasannya adalah karena sikap–sikap tersebut mencerminkan ketidakpuasan
terhadap takdir yang sudah ditetapkan oleh Allah. Padahal Allah itu Maha
bijaksana dan Maha adil. Allah tidak pernah menganiaya hamba-Nya. Allah
berfirman yang artinya, “Dan Rabbmu tidak pernah menganiaya siapapun.” (QS.
Al Kahfi: 49). Pada hakikatnya musibah yang menimpa kita adalah akibat
kesalahan kita sendiri. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan
musibah apapun yang menimpa kalian maka itu terjadi karena ulah perbuatan
tangan-tangan kalian, dan Allah memaafkan banyak kesalahan orang.” (QS.
Asy Syura: 30)
Maka sebenarnya kalau kita menyadarinya maka
sudah semestinya kita bersabar dalam menghadapinya. Karena dengan kesabaran itu
kita akan meraih pertolongan dari Allah. Bukankah Allah berfirman yang artinya,
“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al Anfaal:
46). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga sudah menjanjikan, “Sesungguhnya
pertolongan itu datang bersama dengan kesabaran.” (HR. Abdu bin Humaid
dengan sanad dha’if)
Beristighfar ketika terjerumus dalam dosa
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Semua anak Adam pasti berbuat dosa. Dan sebaik-baik orang yang
berdosa adalah yang gemar bertaubat.” (Hasan, HR. Tirmidzi, Ibnu Majah,
Ahmad, Hakim) Oleh sebab itu orang yang terjerumus dalam perbuatan dosa wajib
bertaubat kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala memerintahkan
semua orang yang beriman untuk bertaubat kepada-Nya. Allah berfirman yang
artinya, “Dan bertaubatlah kalian semua wahai orang beriman agar kalian
beruntung.” (QS. An Nuur: 31).
Taubat itu akan diterima jika dilakukan dengan
ikhlas dan penuh penyesalan. Selain itu seorang yang bertaubat dari suatu dosa
harus meninggalkan perbuatan dosanya itu serta bertekad kuat di dalam hati
untuk tidak melakukannya lagi. Apabila dosa itu menyangkut dengan hak orang
lain maka harus mengembalikan hak orang tersebut atau minta maaf kepadanya. Dan
taubat akan diterima jika dilakukan sebelum nyawa berada di tenggorokan dan
sebelum matahari terbit dari sebelah barat.
Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Katakanlah
kepada hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka janganlah
kalian berputus asa terhadap rahmat Allah, sesungguhnya Allah akan mengampuni
seluruh dosa.” (QS. Az Zumar: 53) Ayat ini berlaku bagi orang yang
bertaubat. Maka dosa apapun yang pernah kita perbuat maka kewajiban kita adalah
segera bertaubat darinya. Karena menunda-nunda taubat adalah dosa.
Duhai,
tahukah kita kapan kita akan mati sehingga demikian lancangnya kita menunda-nunda
taubat? Sampai kapankah kelalaian ini akan kita teruskan? Apakah yang akan kita
dapatkan dengan sekian banyak dosa yang pernah kita lakukan? Kesenangankah
ataukah justru sebaliknya? Lalu mengapa kita menunda-nunda taubat? Apakah kita
akan mengikuti rayuan iblis yang akan menyeret kita ke dalam neraka? Wahai
saudara-saudaraku, siapakah kita apabila dibandingkan dengan Nabi Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam? Padahal beliau saja dalam sehari bertaubat seratus
kali. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai
manusia bertaubatlah kalian kepada Allah. karena sesungguhnya aku bertaubat
kepada-Nya sebanyak seratus kali dalam sehari.” (HR. Muslim). Kalau Nabi
saja yang sudah dijamin masuk surga seperti ini, lantas bagaimana lagi dengan
kita? Akankah kita tetap bertahan dengan dosa yang menghitamkan hati dan
perlahan-lahan menyeret kita ke jurang neraka?!! Wallahu a'lam


0 komentar:
Posting Komentar